Rileks Tapi Tidak Santai
Selain memiliki sifat serius tapi tidak tegang, sifat lain yang dimiliki Yesus adalah rileks tapi tidak santai. Secara sepintas kedua sifat ini kelihatannya sangat kontradiksi satu dengan lainnya, padahal kenyataannya tidak demikian. Sebelumnya sudah dibahas bahwa sifat serius tidak tegang yang membuat Yesus dapat mencapai visi tertinggi organisasi-Nya, sedangkan sifat rileks tapi tidak santailah yang membuat Yesus tetap eksis dalam kepemimpinan-Nya. Melalui sikap ini, Ia bisa menikmati setiap bagian yang ada di dalam organisasi-Nya.
Seorang pemimpin yang menanamkan sikap rileks ini, akan membuat orang-orang disekitarnya merasa aman dan nyaman bersamanya, tidak merasa seperti orang yang bersalah yang sedang diperhadapkan kepada hakim yang siap menjatuhkan hukuman, dan tidak ada cengkraman rasa takut yang ditimbulkan orang yang memiliki sikap ini. Bukan berarti sikap rileks yang dimiliki seorang pemimpin membuat kepemimpinannya seperti tidak benar atau menjadi sembarangan, juga bukan berarti para bawahan dalam organisasi menjadi tidak memiliki ketidak teraturan dan tidak mempunyai target-target tertentu, malahan dengan sikap ini pemimpin memiliki keleluasan untuk mengembangkan organisasinya.
Pemimpin yang dapat menciptakan sikap rileks dapat mencairkan suasana dan dapat meregangkan ketegangan yang memang sering ada di dalam kepemimpinan; akibat berbagai problema atau disebabkan aktivitas yang sedang dikerjakan belum memperoleh solusi atau belum mencapai keberhasilan. Suasana dan sikap rileks dapat menolong dan dapat membuat orang berpikir lebih baik dan jernih, baik untuk pencarian jawaban atas suatu persoalan maupun untuk mendapatkan suatu gagasan baru yang dapat dimanfaatkan untuk keberhasilan sebuah organisasi.
Tidak ada resep istimewa ataupun metode khusus bagaimana supaya seorang pemimpin dapat menciptakan suasana dan sikap rileks dalam kepemimpinannya, sebab sikap ini tidak dapat direkasaya atau sekedar dipelajari saja, tetapi dibentuk dengan pengkondisian yang dikerjakan secara terus- menerus.
Segala perkara dapat di selesaikan
Satu hal penting yang perlu di ketahui pemimpin untuk dia dapat menciptakan kerileksan, adalah dengan menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada suatu perkara dimana Allah tidak memiliki jalan keluar untuk menyelesaikannya. Memiliki pemahaman bahwa Allah selalu memberikan jalan keluar bagi setiap perkara, bukan berarti membuat pemimpin santai atau berpangku tangan tanpa melakukan sesuatu, melainkan ini yang memacu dia untuk giat melakukannya tanpa menimbulkan stress bagi dirinya, sebab ia melakukannya dengan sikap rileks tapi tidak santai.
Mewujudnyatakan berbagai hal
Dalam banyak situasi yang dihadapi-Nya, Yesus sering memperlihatkan dan mengaktualisasikan sikap rileks-Nya terhadap para pengikut-Nya, orang lain ataupun orang banyak. Yesus pernah mengajar murid-murid-Nya sambil memetik gandum, padahal apa yang diajarkan-Nya pada saat itu adalah hal yang penting yaitu mengenai hari Sabat (Matius 12: 1-8), mengajar firman Allah kepada orang banyak sambil duduk diatas perahu (Lukas 5:1-11), melayani perempuan Samaria di pinggir sumur padahal pelayanan-Nya itu menyangkut tentang pertobatan dan tentang bagaimana supaya perempuan Samaria itu memperoleh keselamatan, sepertinya tidak ada tempat yang lebih pantas yang dapat dipakai Yesus untuk melayani wanita ini (Yohanes 4), membela perempuan berzinah sambil melukis-lukis ditanah padahal hidup atau matinya, dirajam atau dibebaskannya wanita ini tergantung dari jawaban yang Yesus berikan terhadap orang Farisi dan ahli Taurat yang membawa perempuan itu.
Tidak hanya itu saja tujuan mereka memperhadapkan perempuan itu kepada Yesus adalah untuk mencobai Yesus, supaya mereka dapat menemukan sesuatu untuk mempersalahkan-Nya. Ini menandakan keadaan yang dihadapi Yesus bukan keadaan biasa melainkan keadaan yang genting, baik bagi perempuan itu maupun bagi diri Yesus sendiri.
Bila pemimpin lain diperhadapkan dengan situasi seperti ini, pasti mereka sudah kebingungan dan kewalahan dan tidak menutup kemungkinan mereka bisa stress menghadapinya. Tetapi lain halnya dengan Yesus, Dia tetap kelihatan rileks, Ia terus menulis di tanah, dengan rileks ia menjawab mereka, kata-Nya: “Kalau ada diantara kamu yang merasa tidak berdosa, baiklah ia yang pertama melemparkan batu kepada wanita itu.”
Tentu saja tak seorangpun berani melemparkan batu terhadap wanita itu, sebab mereka menyadari bahwa mereka semua berdosa bahkan dosa mereka lebih banyak dari dosa perempuan itu. Akhirnya satu persatu mereka meninggalkan perempuan itu. Setelah mereka semuanya pergi, tinggallah Yesus dan perempuan itu, dengan rileks Yesus berkata kepadanya: “Bila mereka tidak menghukum engkau apalagi Aku? Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.” (Yohanes 8:1-10).
Bila semua keadaan aman dan situasinya kondusif, lalu para pemimpin bisa rileks, itu adalah hal yang wajar, tetapi bila situasi gawat dan kritis, pemimpin bisa rileks, itu baru luar biasa. Inilah kelebihan pemimpin yang memiliki sikap rileks, dimana mereka masih dapat tenang dalam menghadapi situasi genting dan kritis, bisa beristirahat sementara pemimpin lainnya sudah kebingungan, masih bisa tertawa sementara yang lainnya untuk tersenyum saja sulit.
Kegagalan yang pernah dilakukan John G. Lake. Seorang pahlawan iman yang luar biasa dipakai Tuhan pada era 1800-an, bahwa ia terlalu memorsir dan memaksa dirinya untuk pelayanan dan untuk menyelamatkan jiwa yang terhilang, sehingga dia lupa meluangkan waktunya untuk rileks bagi dirinya, terutama untuk keluarganya, istri dan anak-anaknya. Akhir pelayanannya menjadi sangat menyedihkan, lebih memprihatinkan lagi keluarganya dan rumah tangganya menjadi berantakan. Salah seorang anaknya pernah mengatakan: “Sikap ayah terhadap kami (keluarga), tidak ada bedanya dengan sikap ayah terhadap pelayanan, padahal kami adalah keluarganya yang membutuhkan dia tidak hanya sebagai pendeta, melainkan sebagai bapa bagi kami.”
Dapat menikmati banyak hal dalam kepemimpinan
Seperti yang sudah saya singgung diawal bahwa pemimpin yang bisa rileks adalah pemimpin yang dapat menikmati bidang-bidang dalam kepemimpinannya dan tidak mau tertekan dengan segala persoalan yang ada. Pemimpin yang memiliki sikap rileks selalu berpinsip bahwa hidup adalah untuk dinikmati dan dilakoni, tidak hanya untuk dipikiri.
Rileks tapi tidak santai, sikap inilah yang seharusnya dimiliki pemimpin masa sekarang itu, dimana perlu untuk mengantisipasi kompleksnya permasalahan di dalam dunia ini yang memang cenderung membuat orang stress. Sebagamana Yesus sebagai Pemimpin Sejati sudah menerapkannya, demikian kita meneladaninya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar