Tegas Tapi Tidak Kasar
Ketegasan dalam kepemimpinan merupakan salah satu sikap yang sangat berperan dan mengambil posisi yang vital dalam diri seorang pemimpin. Ketegasan dapat memicu pergerakan dan kemajuan para pengikut dan organisasi untuk mencapai kesuksesan maksimal secara bersama-sama. Ketegasan membuat pengikut atau bawahan yang kurang kreatif menjadi kreatif dan sangat kreatif, membuat pengikut yang pasif menjadi aktif bahkan proaktif, mereka yang setengah hati menjadi serius dan sungguh-sungguh.
Ketegasan laksana barometer dalam kepemimpinan, bila ketegasan kendor atau dilenturkan, kepemimpinan cederung mengalami banyak kendala baik dari dalam maupun dari luar organisasi, yang akan berdampak pada kemajuan dan efektifitas suatu organisasi, bahkan bila tingkat ketegasan sampai kepada titik diabaikan dan ditinggalkan, kepemimpinan dapat mengalami kemunduran dan rentan dengan perpecahan yang dapat menjadi awalnya kehancuran sebuah kepemimpinan.
Ada banyak organisasi, instansi, lembaga dan sejenisnya mengalami kemunduran, perpecahan, kebangkrutan hanya karena menghadapi masalah seputar sikap ketegasan. Bahkan sebuah negara pun bisa berantakan, carut-marut bila pemimpin di negara tersebut tidak memiliki ketegasan dalam membuat kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan situasi, dengan rakyat, dengan para petinggi negara atau terhadap persoalan yang sedang di hadapi negaranya.
Ketegasan suatu kepemimpinan sangat dibutuhkan untuk mengadapi segala urusan yang berhubungan dengan segi internal yang meliputi struktur, tugas dan penugasan, tanggung jawab, hak dan kewajiban serta sanksi-sanksi yang berlaku dan juga yang berhubungan dengan segi eksternal yaitu pengembangan, jaringan kerja sama, hubungan dan tanggung-jawab kepada pemerintah serta hal lainnya.
Pengaruh ketegasan akan sangat nyata dan terasa bila kepemimpinan itu mengalami masa kritis dan genting. Disini ketegasan akan memainkan perannya secara maksimal, yaitu untuk menetapkan keputusan dan kebijakan sebagai solusi supaya organisasi itu dapat menghadapi situasi tersebut, yang mana pada akhirnya organisasi itu dapat mengalami pemulihannya kembali.
Yesus sebagai Pemimpin Sejati menyadari penuh pentingnya arti ketegasan itu dalam memaksimalkan seluruh aspek dan pribadi dalam kepemimpinan-Nya
Menanamkan pemahaman yang benar
Dalam Matius 16:22-23 dikatakan demikian:
Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya,Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa engkau, maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus “Enyahlah iblis, engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah melainkan apa yang dipikirkan manusia”
Disini Yesus menegur Petrus tidak hanya dengan ketegasan biasa melainkan dengan ketegasan yang tinggi untuk menanamkan pemahaman yang benar, supaya Petrus menjadi sadar. Ada alasan yang fundamental mengapa Yesus perlu menanamkan pemahaman yang benar bagi Petrus, yaitu:
Pertama, Petrus kurang beretika kepada Yesus sebagai Pemimpin dan Gurunya terlebih sebagai Tuhannya. Dengan perlakuannya menarik Yesus ke samping, yang mana dalam terjemahan lain yang dipakai untuk kata ‘menarik’ ialah menyentak, yang artinya menarik dengan paksa, dan tidak hanya menarik dengan paksa, Petrus juga menegur Dia. Dalam terjemahan NRSV kata yang dipakai untuk ‘menegur‘ ialah ’rebuke’ yang artinya mencela atau memarahi. Jadi Petrus berani memarahi Yesus!
Apa yang dilakukan Petrus itu sudah kelewatan dan diluar batas serta kurang terpuji dan tidak beretika. Untuk menegur atau memarahi teman atau orang lain saja, kita masih berpikir panjang, apalagi kalau kita belum mengetahui secara jelas duduk persoalannya, apalagi memarahi pemimpin. Kita tidak etis bila memarahi pemimpin. Bukan berarti pemimpin tidak pernah keliru atau berbuat kesalahan, tapi etisnya kita menasehatinya, mendoakannya dan bila itu harus, kita menegurnya dengan kasih.
Kedua, Petrus ditegur Yesus dengan ketegasan yang tinggi karena ia tidak memikirkan apa yang dipikirkan dan sudah dirancangkan Allah bagi Yesus, bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari lawan-Nya dan harus mati di kayu salib. Petrus hanya memikirkan apa yang dipikirkan manusia bahwa hal itu tidak akan terjadi pada Yesus. Petrus memakai pikirannya yang terbatas.
Kedua alasan inilah yang menyebabkan Yesus bersikap tegas terhadap Petrus, untuk menanamkan pemahaman yang benar baik tentang etika dan konsep berpikir yang benar dalam menilai segala sesuatu. Kendati Yesus bersikap sangat tegas terhadap Petrus, tapi ia tidak tersinggung atau sakit hati apalagi akar pahit, sebab Petrus tahu, Yesus bersikap demikian, adalah wajar dan tepat. Lebih dari itu Petrus menjadi sadar atas kesalahannya dan mengambil satu pelajaran yang sangat berharga yaitu sekalipun Yesus tegas tapi Ia tidak kasar.
Menyatakan ketegasan kepada pengikut-Nya
Dalam Markus 4:35-41 dikisahkan bagaimana para pengikut-Nya sedang menghadapi angin ribut yang dahsyat yang mengakibatkan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air dan tidak lama lagi pastilah perahu tersebut tenggelam. Ini berarti menandakan mereka sedang menghadapi bahaya yang serius. Tapi uniknya dalam keadaan genting ini, Yesus masih bisa tidur diburitan perahu. Apakah ia benar-benar tidur atau tidak, Alkitab tidak menjelaskan secara rinci. Situasi yang gawat ini membuat mereka panik, kemudian mereka membangunkan Yesus dan komplen kepada-Nya, karena mereka berpikir dan merasa Yesus tidak memperdulikan mereka ketika bahaya mengancam mereka. Lalu Yesus pun bangun dan menenangkan danau sehingga danau itu menjadi teduh sekali, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Setelah semua keadaan tenang, Yesus dengan tegas menegur mereka menyangkut dua hal:
Pertama: Ketakutan mereka yang berlebihan. Bukankah Yesus ada bersama-sama mereka di kapal? Dan tidak mungkin Yesus membiarkan mereka binasa.
Kedua: Ketidak percayaan mereka. Bukankah selama ini mereka sudah bersama dengan Yesus dan melihat segala perbuatan ajaib yang sudah dilakukan Yesus?
Alasan inilah yang mendorong Yesus menegur mereka dengan tegas, tetapi mereka tidak sakit hati. Bahkan mereka merasa takjub dan sangat terkesan dengan apa yang diperbuat Yesus.
Menyatakan ketegasan kepada keluarga-Nya
Peristiwa ini terjadi ketika Yesus berumur dua belas tahun dimana Yesus dan orang tuanya pergi ke Yerusalem untuk merayakan paskah seperti yang lazim mereka lakukan. Sehabis hari-hari perayaan itu, mereka berjalan pulang tanpa mereka menyadari Yesus masih tinggal di Yerusalem. Orang tua Yesus mengira Ia ada diantara rombongan seperjalanan mereka. Setelah sehari perjalanan jauhnya mereka mencari-cari-Nya diantara kaum keluarga dan kenalan mereka, tetapi tidak menemukan-Nya. Akhirnya mereka kembali ke Yerusalem untuk mencari Yesus. Setelah tiga hari mencari-Nya, mereka menemukan Yesus di Bait Allah di tengah-tengah alim ulama yang mengelilingi-Nya sambil bertanya jawab dengan mereka tentang hukum Taurat.
Semua orang takjub mendengar apa yang disampaikan-Nya, orang tua-Nya sendiri pun tercengang melihat-Nya, lalu mereka menyatakan kecemasan mereka atas diri-Nya karena mereka sudah tiga hari tidak melihat-Nya. Dia menyatakan ketegasan-Nya kepada mereka bahwa seharusnya mereka tidak perlu bersusah payah mencari-cari diri-Nya, apalagi sampai mencemaskan-Nya, karena memang seharusnya ia berada di rumah Bapa-Nya (Luk 2:41-52)
Para pemimpin terdahulu dan sekarang banyak gagal menerapkan ketegasan dalam keluarganya, secara khusus dalam rumah tangganya. Mereka bisa tegas terhadap orang lain tapi tidak tegas terhadap keluarganya, sehingga orang lain melihat ketimpangannya. Keadaan ini bila dipertahankan dapat menjadi bumerang yang bisa menghancurkan kepemimpinan mereka secara perlahan-lahan.
Yesus menyadari bahwa sikap tegas perlu Ia nyatakan terhadap keluarga-Nya. Dia tidak mau keluarga-Nya menjadi batu sandungan di dalam kepemimpinan-Nya, Ia tidak mau menjerumuskan diri-Nya dalam sistim nepotisme yang dapat menghancurkan kepemimpina-Nya.
Begitu pula yang tertulis didalam Matius 12:46-49 dikatakan bahwa:
Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku. Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”
Yesus tidak langsung menemui keluarga-Nya. Sebagai Pemimpin Sejati dengan tegas Yesus menyatakan bahwa bukan kepentingan keluarga lebih terutama dari pada kepentingan orang banyak, atau karena mereka itu ibu dan saudara-saudara-Nya, lalu Ia mendahulukan mereka dari orang banyak, itu tidaklah tepat. Bahkan klimaksnya Yesus tegaskan bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya adalah mereka yang melakukan kehendak Allah. Bukan berarti Yesus mengabaikan keluarga atau seperti Malin kundang yang mendurhaka terhadap ibunya dengan tidak mengakui ibu kandungnya sendiri.
Yesus mau menyatakan bahwa nilai ketegasan-Nya tidak ditentukan oleh situasi, mood atau tidak moodnya suasana hati-Nya, tidak ditentukan oleh orang lain atau sekalipun oleh keluarga-Nya sendiri, melainkan ditentukan oleh kebenaran Allah. Sebenarnya untuk menyatakan ketegasan bagi keluarga sangat sulit karena langsung melibatkan diri kita sendiri, tetapi sebagai Pemimpin Sejati, Yesus sudah berhasil melakukannya.
Menyatakan ketegasan kepada orang lain
Yesus tidak hanya tegas kepada orang dalam saja (ke12 murid-Nya dan keluarga-Nya ). Dia juga menyatakan ketegasan-Nya terhadap orang lain dengan tidak memilih-milih atau membeda-bedakan orangnya. Dalam Matius 19:16-26 dikatakan:
Ada seorang muda yang kaya yang menanyakan kepadanya apa yang harus diperbuatnya untuk memperoleh hidup yang kekal. Yesus menjawab dia dengan tegas jikalau orang muda itu hendak sempurna, Yesus menyuruhnya menjual harta dan membagi-bagikannya kepada orang miskin, kemudian mengikut Yesus, barulah ia dapat memperoleh hidup yang kekal.
Bukan karena pemuda ini kaya lantas Yesus sungkan untuk menyatakan ketegasan kepadanya, Yesus tetap menyatakan pendapat-Nya dengan tegas terhadap pemuda kaya itu, atau waktu Nikodemus datang kepada-Nya, seorang pemimpin agama Yahudi yang menanyakan secara detail tentang kekekalan, dan bagamana Ia dengan tegas menjawab seluruh pertanyaan yang membuat Nikodemus kagum (Yohanes 3:1-21). Ketegasan Yesus tidak dipengaruhi karena orang itu disegani atau terpandang. Dia tegas karena itu merupakan kebenaran.
Ketegasan Yesus juga nyata kepada orang banyak yang mencari dan menemukan-Nya. Ini berhubungan dengan peristiwa sesudah Yesus mengadakan mujizat dengan memberi makan mereka yang berjumlah lebih kurang 5000 hanya dengan 5 roti dan 2 ikan. Lalu Yesus menegur mereka dengan tegas atas motivasi mereka yang salah dalam mencari Yesus, yang hanya untuk urusan perut dan kemudian menasihati mereka supaya bekerja tidak hanya untuk makanan yang dapat binasa melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal (Yohanes 6:25-59). Bahkan kepada para penentang-Nya, eskalasi (tingkatan) ketegasan-Nya lebih tinggi dan lebih tajam dibanding kepada yang lain.
Dalam suatu peristiwa dimana orang-orang Farisi dan Saduki meminta Yesus supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka, lalu Yesus menyatakan ketegasan dengan tajam bahwa kepada angkatan yang jahat dan tidak setia seperti mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus (Matius 16:1-4).
Jadi dengan siapapun Dia berhadapan dan kapanpun waktunya, dimanapun tempatnya dan bagaimana keadaannya bahwa sikap tegas tapi tidak kasar, tidak pernah terabaikan dalam kepemimpinan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar