no copas

Jumat, 13 Januari 2012

Serius tapi tidak tegang

Serius Tapi Tidak Tegang



Setiap aspek yang kita lakukan dalam kehidupan ini membutuhkan keseriusan. Apapun bentuk dan jenis aktifitas serta pekerjaan kita, akan mencapai keberhasilan bila dilakukan dengan serius. Mimpi-mimpi yang indah, cita-cita yang bagus, aspirasi-aspirasi yang brilian jarang terwujud dan sering tidak terwujud karena kurangnya keseriusan dalam mengerjakannya.
Besar atau kecilnya keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa serius kita menekuninnya. Semakin kita serius, maka peluang untuk berhasil bertambah besar dan akan lebih cepat kita peroleh, sebaliknya bila keseriusan kita berkurang maka peluang untuk berhasil lebih kecil dan lebih lama kita memperolehnya.

Dalam hal ini saya bukan bermaksud mengabaikan peranan kasih karunia Allah didalam kehidupan kita, termasuk untuk membuat kita mencapai keberhasilan. Namun bukan berarti karena seluruh hidup ini merupakan kasih karunia, kita tidak perlu lagi serius di dalam hidup ini, sebaliknya kasih karunia itu memacu kita untuk meningkatkan keseriusan.

Dalam 1 Korintus 15;10 Rasul Paulus menyampaikan firman Allah demikian:

Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidaklah sia-sia, sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua, tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

Rasul Paulus menyatakan sepenuhnya tahu akan arti pentingnya kasih karunia itu di dalam hidupnya. Itu yang membuat dia bisa bekerja keras melebihi para rasul yang lain, sebab kasih karunia Allah menyertai dia.

Kebenaran inilah yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin khususnya pemimpin Kristen di dalam kepemimpinan mereka, dimana melalui kasih karunia Allah mereka boleh menjadi pemimpin yang memiliki keseriusan dan melalui kasih karunia itu pula tingkat keseriusan mereka bisa mencapai puncaknya sehingga mereka dapat meraih keberhasilan yang sangat maksimal dan tidak terbatas.

Dalam dunia kepemimpinan keseriusan mengambil tempat yang strategis dan sangat dibutuhkan, terutama untuk mencapai keberhasilan yang diharapkan, dan itu dimulai dari dalam dan melalui diri pemimpin. Sikap yang serius dari seorang pemimpin akan sangat mempengaruhi dinamika dan progresivitas kepemimpinannya.

Pemimpin yang serius tidak diukur hanya berdasarkan kapasitas pengetahuan-Nya atau kefasihan berbicara, tetapi diukur dari seberapa besar usaha dan seberapa banyak waktu, tenaga, materi bahkan kehidupan yang sudah ia berikan dan korbankan untuk meraih dan mencapai visi kepemimpinannya.

Yesus sendiri menyadari peranan kasih karunia ini dalam kepemimpinan-Nya, lebih dari itu Dia sendiri merupakan perwujudan dari kasih karunia, tetapi hal tersebut tidak membuat Yesus jadi kurang memiliki sikap serius, sebaliknya semakin Dia menyatakan bahwa Diri-Nya adalah kasih karunia itu, maka tingkat keseriusan-Nya pun menjadi tidak terbatas.

Mempersiapkan diri-Nya menjadi pemimpin

Bila dilihat dari kebenaran firman Tuhan bahwa Allah sendirilah yang mempersiapkan Yesus menjadi pemimpin, dimana waktu yang dibutuhkan Allah untuk menjadikan diri-Nya sebagai Pemimpin lebih kurang tiga puluh tahun, seperti yang disampaikan dalam Lukas 3:23:

Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya ia berumur kira-kira tiga puluh tahun.

Tiga puluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk Yesus mempersiapkan diri sebagai Pemimpin Sejati, sekalipun itu belum termasuk sebagai waktu terlama yang memecahkan rekor dalam mempersiapkan seseorang jadi pemimpin, sebab masih ada nabi Musa yang menghabiskan waktu 40 tahun di Mesir dan 40 tahun lagi di padang Gurun, lamanya waktu Allah maempersiapkan Musa sebagai pemimpin adalah 80 tahun.

Dengan melihat lamanya waktu Yesus dipersiapkan, membuktikan betapa besarnya tanggung jawab yang akan dipikul-Nya bila Ia menjadi Pemimpin. Tentu saja tanggung jawab yang sangat besar ini membutuhkan keseriusan yang sangat besar pula bahkan bisa dikatakan keseriusan yang mutlak dari Yesus sendiri sebagai pribadi yang dipersiapkan untuk menjadi Pemimpin, sebab ini menyangkut bukan hanya untuk kepentingan beberapa pribadi atau beberapa kelompok atau satu bangsa saja, melainkan mencakup seluruh dunia ini.

Selama 30 tahun Yesus mempersiapkan dengan serius seluruh hidup-Nya, baik terhadap persiapan fisik-Nya Yesus serius, wawasan-Nya terus-menerus diperluas-Nya, mental-Nya supaya semakin teruji, hubungan sosial terus dijaga untuk tetap baik dan benar, spiritual-Nya untuk terus berkenan dan menyukakan hati Allah.

Hasil keseriusan Yesus dalam mempersiapkan seluruh hidup-Nya ditulis dalam Lukas 2: 52:

Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Itu semua dicapai-Nya dengan membayar biaya dan harga yang mahal yaitu sikap serius yang sudah mencapai titik tertinggi.

Puncak ujian apakah Yesus serius atau tidak dalam mempersiapkan diri-Nya sebagai Pemimpin adalah di padang Gurun. Disana seluruh eksistensi hidup Yesus diuji selama 40 hari 40 malam, baik secara jasmani, dimana Yesus dicobai iblis supaya membuat batu menjadi roti, dan Yesus menjawab bahwa manusia hidup bukan dari roti saja melainkan dari seluruh firman yang keluar dari mulut Allah (Mat 4:4).

Kemudian secara mental iblis mencobai-Nya supaya Yesus menjatuhkan diri-Nya dari bubungan bait Allah, dengan mengutip Mazmur 91:11-12 iblis mencoba meyakinkan Yesus bahwa malaikat-malaikat-Nya akan menatang-Nya, supaya kaki-Nya tidak terantuk kepada batu, tapi Yesus menjawab supaya iblis tidak mencobai Tuhan Allah (Mat 4:7). Disini Yesus mau menyatakan kepada iblis bahwa mental-Nya bukan mental mencobai; yang meragukan Allah melainkan mental yang sepenuhnya meyakini Allah. Yesus lolos dalam ujian mental.

Terakhir Yesus dicobai secara spiritual; iblis memperlihatkan kepada-Nya segala kemegahan dunia ini dan iblis berkata semua itu dapat diberikannya bila Yesus mau menyembahnya, tapi Yesus menjawab bahwa semua makhluk harus menyembah Tuhan Allah dan hanya berbakti kepada-Nya saja (Mat 4:10). Yesus lolos dalam ujian spiritual. Berhasilnya Yesus diuji di padang Gurun membuktikan bahwa diri-Nya serius untuk menjadi Pemimpin Sejati.

Melasanakan kepemimpinan-Nya

Tidak hanya ketika mempersiapkan diri-Nya sebagai pemimpin saja Yesus serius. Dalam melaksanakan kepemimpinan-Nya di bumi ini selama 31/2 tahun, Ia juga serius. Ketika Dia menyampaikan pengajaran baik kepada murid-murid-Nya dan kepada orang lain maupun kepada orang banyak yang dilakukan-Nya di tempat terbuka, seperti dilapangan-lapangan, di tepi danau atau ditepi pantai ataupun di daerah perbukitan Yesus tetap serius. Tempat atau situasi tidak mengurangi atau membatasi keseriusan-Nya.

Ketika Dia menyembuhkan orang dari berbagai jenis penyakit yang diakibatkan roh-roh jahat, yang dibawa sejak lahirnya atau dideritanya setelah menjalani kehidupannya ataupun karena kecelakaan, semuanya Yesus kerjakan dengan sangat serius.

Bukan karena diperhadapkan kepada penyakit yang biasa atau ringan seperti demam yang pernah diderita oleh mertua Petrus (Matius 8: 14-17), lantas membuat Yesus kurang serius, sebaliknya bila yang diperhadapkan dengan penderita penyakit yang parah dan akut seperti yang dialami oleh wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun (Matius 9: 18-26) atau orang yang menderita sakit di kolam Betesda selama 38 tahun (Yohanes 5 :1-18), baru Yesus menunjukan keseriusan-Nya. Apapun jenis penyakit, seberapa pun tingkat keparahannya, sudah sampai stadium berapa pun penyakit yang diderita orang tersebut, tidak jadi penentu keseriusan Yesus.

Ketika mengadakan mujizat terhadap alam seperti meredakan angin ribut (Matius 8: 23-27); terhadap tumbuh-tumbuhan, seperti mengeringkan pohon ara (Matius 21: 18-22); terhadap hewan, seperti mengeluarkan mata uang dari mulut ikan untuk membayar pajak (Matius 17: 24-27); terhadap manusia, seperti membangkitkan orang mati (Lukas 7: 11-17), Yesus senantiasa menunjukan keseriusan-Nya.

Demi mempertahankan keseriusan-Nya. Ia sering tidak makan, sedikit istirahat, tapi Ia tidak memusingkannya. Ia rela mengalami fitnahan, pukulan, hinaan dan penderitaan yang sangat berat, dimana manusia yang pernah hidup sebelumnya dan sesudah Yesus tidak pernah mengalaminya. Klimaks keseriusan Yesus nyata dan terbukti ketika Ia menggenapi visi tertinggi dan termulia-Nya, yaitu rela mati dikayu salib memberikan nyawa dan hidup-Nya demi keselamatan seluruh manusia.

Tidak ada satu ayat pun di dalam Alkitab mengenai Yesus yang isi kalimat-Nya
menyangsikan keseriusan-Nya, melainkan sudah sangat banyak jumlah ayat di dalam Alkitab yang dapat dikutip untuk menyatakan keseriusan Yesus. Apapun yang diperbuat-Nya, Yesus pasti serius. Inilah tipe pemimpin yang dirindukan setiap orang, setiap kelompok dan semua bangsa.

Secara jujur diakui ada sebagian pemimpin yang tidak serius dalam melaksanakan kepemimpinannya, atau pemimpin yang hanya serius memproklamirkan semua program kerjanya, namun tidak begitu serius untuk melakukan dan merealisasikannya. Model pemimpin seperti ini tidak akan pernah melihat hasil maksimal dan memuaskan dalam organisasinya. Bagaimana mungkin dia dapat motivasi dan menggerakan bawahannya untuk memperoleh hasil yang maksimal, bila dirinya sendiri belum atau kurang serius melakukannya. Inilah kesalahan yang sering dan masih dilakukan berulang-ulang oleh para pemimpin sekarang.

Kendati semua yang dilakukan Yesus membutuhkan keseriusan, tapi itu tidak membuat diri-Nya, para pengikut-Nya, atau orang lain kepada suasana yang menegangkan. Yesus serius tapi tidak tegang.

1 komentar:

  1. Casinos Near Casino - MapyRO
    The 춘천 출장안마 following Casinos with Casinos 영주 출장안마 near 울산광역 출장샵 Casino locations in California: - Treasure Island - Golden 성남 출장샵 Gate, Palms Casino, Palms Casino 문경 출장마사지 & SkyPod.

    BalasHapus